Suatu malam di sebuah rumah ada seorang wanita yang membutuhkan pertolongan. Namun disisi lain,tidak ada satu orang pun yang berada di rumahnya. Gadis itu bernama Chili Xiao dia berumur 27 tahun dia termasuk gadis yang kaya raya. Dia bertempat tinggal di area perumahan elit yang hanya dihuni oleh orang-orang kaya saja dan dia hanya berdua bersama pembantu rumah nya karena orangtuanya berada di Negara Indonesia.

Di dalam rumah itu,Chili sendirian. Chili sesak nafas. Dia merangkak mencari tabung oksigen kesetiap penjuru rumah. Tidak menemukan satupun. Dia terus mencari tabung oksigen. Namun,tetap tidak menemukan satupun tabung oksigen.

“K-kenapa aku t-tidak m-menemukan satupun t-tabung oksigen?” ucap Chili

“Padahal a-aku baru membeli b-beberapa botol minggu lalu” ucap Chili sedih

Lalu dia dengan nafas yang sangat sesak. Dia,keluar rumah mencari penjual tabung oksigen. Tapi, Chili tidak menemukan satupun orang yang berjualan tabung oksigen di area sekitar perumahannya. Dia tidak menyerah demi bertahan hidup dia tetap mencari orang yang berjualan tabung oksigen itu. Sampai diujung jalan, dia akhirnya menemukan penjual yang masih menjual tabung oksigen yng hanya tersisa satu buah botol saja. Dia merangkak hingga dia sampai ke penjual tesebut.

“Pak,s-saya ingin m-membeli tabung itu” ucap Chili

“Pak saya ingin membeli tabung itu” ucap seorang pria mengatakan hal yang sama

Dan bapak penjual pun bingung harus memberikan kepada siapa. Lalu situasi itu menjadi perdebatan antara mereka berdua.

“Pak berikan kepada saya saja. S-saya sangat m-membutuhkan oksigen ini.” ucap Chili memohon kepada bapak penjual.

“Tapi, pak tunggu saya yang harus mendapatkan tabung oksigen itu” ucap pria itu.

“A-apa kau tidak l-liat?a-aku sudah hamper k-kehabisan nafas.” Ucap Chili

“Tapi aku sungguh memerlukan tabung oksigen ini untuk adik kecilku dirumah.” Ucap pria itu. Akhirnya bapak penjual itu melerai mereka berdua dan memberikan solusi nya.

“Sudah-sudah bagaimana kalau kalian berbagi agar masing-masing mendapatkan oksigen ini. Apa kalian keberatan anak-anak muda?” ucap pak penjual

“Baiklah aku tidak keberatan pak,bagaimana denganmu?” Tanya pria tersebut

“Tentu aku tidak masalah.” Ucap Chili

Akhirnya Chili menghirup setengah oksigen bersih tersebut,dan pria tersebut pulang untuk menemui adiknya untuk menghirup oksigen itu. Sesampainya dirumah pria tersebut memberikan setengah oksigen itu kepada adiknya yang masih kecil. Pria itu bernama Graby Yuan dia berumur 27 tahun dan hidup berdua bersama adiknya yang bernama Elisa Yuan yang berumur 10 tahun. Mereka berdua hidup serba kekurangan karena orangtua mereka telah lama meninggal akibat sesak nafas dan terlambat di tolong. Graby bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran yang mendapat gaji lumayan untuk menghidupi dia dan adiknya.

“Elisa?” panggil Graby

“I-iya kakak?uhuk uhuk” ucap Elisa batuk

“Ini hirup oksigen yang kakak beli,agar batukmu membaik.” ucap Graby

“Tapi bagaimana dengan kakak?uhuk uhuk” ucap Elisa

“Kakak tidak apa-apa ayo di hirup.” ucap Graby

“Baiklah kak.” ucap Elisa lalu menghirup oksigen tersebut

Keesokan harinya Chili berangkat pagi-pagi sekali agar tidak terkena asap kendaraan dan terkena macetnya perjalanan di kota. Saat berad di perjalanan,Chili melihat banyak sekali penjual yang menjual tabung oksigen. Dia pun meruntuk kesal.

“Pagi ini kenapa banyak penjual yang menjual tabung oksigen? Padahal tadi malam saat aku sangat membutuhkannya tidak seorang pun yang menjual.” ucap Chili kesal

Dia melajuan mobilnya menuju kantor,karena sebentar lagi jalanan akan semakin macet.  Sesampainya di kantor dia langsung mengerjakan tugas yang sudah menumpuk di mejanya.

“ahh,hari ini bakal lembur sampai malam lagi nih.” gumam Chili

Malam nya sesampainya dirumah dia pun langsung tertidur karena kelelahan mengerjakan tugas kantor. Pagi-pagi sekali dia bangun untuk membersihkan rumah karena hari sabtu dan minggu dia libur kerja , dan setiap pagi dia memang membersihkan rumahnya. Setelah dua jam dia membersihkan rumahnya perutnya berbunyi pertanda bahwa ingin diberi makan.

“ah aku lapar aku ingin buat sesuatu untuk dimakan.”ucapnya lalu dia mencari bahan makan di dalam kulkas namun tidak bahan nya banyak yang habis.

“Yah bahannya hanya tersisa telur saja,aku harus ke supermarket hari ini untuk membeli    bahan makanan untuk satu bulan kedepan.”ucap Chili

Lalu dia pun berangkat menaiki mobil nya menuju supermarket dan tak lupa dia memakai masker agar tidak terkena sesak nafas. Sesampainya disana dia memarkirkan mobilnya dan segera membawa troli untuk memasuki supermarket. Namun disitu dia seperti mengenal seseorang dan menghampirinya.

“Permisi,bukankah  kamu yang dulu yang beli di ujung jalan itu?” ucap Chili

“Iya,ah kamu yang sesak nafas itu kan?” ucap Graby

“Benar-benar ternyata kau mengenaliku hahaha,siapa dia?” ucap Chili

“Dia adikku,Elisa ayo beri salam.” ucap Graby kepada adiknya

“Hai kak,namaku Elisa Yuan.” ucap Elisa

“Hai juga Elisa ah kau sangat cantik.” ucap Chili

“Bagaimana kalau kita lanjut mengobrol di dalam kafe itu.” ucap Chili

“Baiklah.” ucap Graby

Lalu mereka bertiga memasuki sebuah kafe yang berada di dalam supermarket itu. Mereka mengobrol hal-hal lucu dan akhirnya waktu sudah malam mereka akhirnya berpisah untuk pulang,sebelum berpisah Chili meminta nomer handphone Graby dan Chili langsung membeli bahan-bahan makanan untuk satu bulan kedepan.

Sesampainya dirumah Chili langsung tertidur karena kecapaian mengerjakan tugas hari ini dia tertidur lelap sekali. Keesokan hari nya dia bangun dan membersihkan dirinya lalu memasak sarapan pagi. Tiba-tiba dia mendapatkan notifikasi dari Graby untuk mengajak Chili membeli tabung oksigen di ujung jalan tempat mereka pertama kali bertemu.

“Hai Graby.” ucap Chili

“Hai Chili.” ucap Graby

“Apa kau ingin membeli tabung oksigen itu?” tanya Chili

“Aku ingin membelinya untuk Elisa namun hari ini aku belum mendapatkan gaji.” ucap Graby

“Kalau begitu aku belikan saja,pak saya beli 3 tabung oksigen.” ucap Chili

“Baik nak,ini semuanya 4 juta.” ucap pak penjual

“Makasih pak,ini uangnya.” ucap Chili dan memberikan tabung itu ke Graby

“Tidak usah aku tidak ingin merepotkanmu.” ucap Graby menolak

“Ambil saja ini juga demi kebaikan adikmu agar dia cepat sembuh, dan karena aku sayang dengan Elisa.” Ucap Chili

“Baiklah terimakasih Chili Xiao.” ucap Graby lalu memeluk Chili

“Sama-sama Graby Yuan.” ucap Chili dan membelasa pelukannya

Tapi Chili merasa aneh kenapa jika di dekat Graby jantungnya menjadi berdegup dengan cepat dan merasa nyaman di dekatnya Chili juga selalu mengingat wajah Graby setiap saat.

“Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdegup dengan cepat?” gumam Chili

“Kenapa Chili?apa kau sakit?” tanya Graby

“Ah ya? Aku tidak apa-apa kalau begitu aku pulang dulu kapan-kapan datang lah lagi bermain ke rumahku jangan lupa ajak Elisa.” ucap Chili sambil memasuki mobil dan mengendarainya kembali ke rumah.

Sesampainya dirumah dia merasa aneh dengan dirinya dan terus bertanya-tanya ada apa denganku?kenapa dirinya begitu padahal dia berteman dengan teman-teman pria nya di kantor dia biasa saja api kenapa dengan Graby berbeda. Di lain tempat Graby pun merasakan hal yang sama dengan dirinya,namun mereka berdua tidak menyadari nya bahwa mereka sama-sama menyukai.

“Elisa Elisa sini kakak mau ngasih sesuatu.” ucap Graby

“Ada apa kak?” tanya Elisa

“Taraaa ini kamu dibelikan tabung oksigen dari kak Chili nanti kalau ketemu bilang makasih ya.” ucap Graby

“Wah kak Chili baik banget kak.” ucap Elisa senang

“Kamu mau main kerumah kak Chili?” tanya Graby

“Mau kak mau banget.” ucap Elisa senang

“Ya udah kamu mandi dulu gih biar cantik.” ucap Graby mengelus kepala adiknya

“Siap kak.” ucap Elisa

Setelah siap-siap mereka akhirnya pergi kerumah Chili mengunakan busway dan memasuki area perumahan elit itu. Sesampainya di rumah Chili mereka mengetuk pintu rumahnya namun tidak ada yang menjawab panggilan itu. Tiba-tiba datanglah seorang ibu-ibu memberitahukan bahwa Chili baru saja pingsan dan dibawa ke rumah sakit untuk di periksa. Akhirnya Graby sambil menggendong Elisa segera berlari menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Chili,aneh nya Graby merasa sesak mendengar Chili dibawa ke rumah sakit. Setelah beberapa jam Chili akhirnya sadar.

“A-aku dimana?” ucap Chili

“Kau sedang berada dirumah sakit sekarang.” ucap Graby

“Bagaimana aku bisa berada dirumah sakit?” tanya Chili

“Kata seorang ibu-ibu kau mengalami pingsan dan sesak nafas.” ucap Graby

“Kakak apa kau akan sehat kembali?” tanya Elisa

“Tentu saja kakak akan sehat kembali Elisa.” ucap Chili sambil mengusap kepala Elisa

Setelah itu Chili diperbolehkan pulang setelah infusnya sudah habis,mereka bertiga akhirnya pulang menggunakan taksi. Sesampainya dirumah Chili,Graby membantu Chili untuk masuk ke rumahnya dan mendudukannya di sofa lalu Graby langsung membuatkan bubur dan Elisa menemani Chili diruang keluarga.

“Chili bagaimana kau bisa sesak nafas dan pingsan?padahal kau bukannya menyimpan beberapa persediaan tabung oksigen dirumah?” tanya Graby sambil menaruh bubur di meja

“Saat itu entah kenapa dadaku merasa sangat sesak sekali dan aku tidak bisa  pergi mengambil tabung oksigen. Disitu aku mulai merasa pusing dan tiba-tiba aku pingsan saat hendak keluar rumah,maafkan aku Graby.” ucap Chili sambil menangis

“Sudahlah Chili kau jangan menangis ini bukan salahmu.” ucap Graby memeluk Chili

“Kak Chili jangan menangis,nanti Elisa juga ikut menangis.” ucap Elisa

“Baiklah-baiklah maafkan kakak ya.” ucap Chili tersenyum kepada Elisa

Mereka akhirnya berbicang-bincang hingga waktu menunjukkan pukul 11.00 pm dan Elisa sudah tertidur. Akhirnya Graby sambil menggendong Elisa pamit pulang dan menyuruh Chili untuk beristirahat. Keesokan pagi nya Chili di telfon oleh keluarganya untuk pindah ke Negara Indonesia agar kondisi nya tidak semakin memburuk di Negara Cina itu. Sebenarnya Chili tidak ingin meninggalkan Negara ini atau lebih tepatnya Graby yang telah memikat hatinya,namun kondisi berkata lain yang memang harus meninggalkan Negara ini. Maka pagi-pagi sekali dia langsung menuju ke bandara untuk berangkat ke Negara Indonesia tempat orangtuanya tinggal.

Selama beberapa minggu Graby tidak mendapatkan sebuah pesan dari Chili dan dia merasa aneh dengan keadaan ini akhirnya dia memutuskan untuk kerumah Chili. Namun,apa yang terjadi. Graby hanya menemukan sebuah rumah yang sudah lama kosong dan tidak ada satupun penghuninya yang menempati rumah itu lagi. Dia terduduk lemas,dia mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

“Kenapa dia meninggalkanku sendirian disini?sedangkan aku sudah sangat mencintainya. Padahal aku belum mengungkapkan perasaan ku kepadanya bahwa aku aku sangat mencintainya.” ucap Graby frustasi

Akhirnya dia pun pulang menuju rumahnya. Disitu sudah berdiri Elisa yang mulai menangis karena melihat kakaknya yang sudah seperti kehilangan sesuatu yang berharga namun belum sempat mendapatkannya.

“Kakak k-kenapa?” ucap Elisa menangis

“Kakak tidak apa-apa Elisa,maafkan kakak.” ucap Graby kepada Elisa

“Kak, kak Chili kemana? Kenapa tidak pernah datang mengunjungi kita lagi?” tanya Elisa

“Jangan mengatakan nama itu lagi Elisa!!” bentak Graby

“Ma-maafkan Elisa kak Elisa tidak bermaksud.” ucap Elisa

tiba-tiba sesak Elisa mulai kambuh lagi , Graby panic dan langsung membawa Elisa ke rumah sakit dengan dia tidak memakai alas kaki karena keselamatan Elisa lebih penting dari pada kakinya yang jika diobati akan sembuh kembali. Sesampainya disana Elisa langsung dibawa ke UGD untuk ditindak lanjuti kondisinya. Sambil menunggu dia terus bergumam menyalahkan dirinya sendiri karena membentak adik kecilnya dan tidak menyediakan tabung oksigen dirumahnya.

“Ini semua salah ku seharusnya aku tidak membentaknya.” ucap Graby

“Ini bukan salahmu Graby Yuan.” ucap seorang wanita

“Chili? Benarkah itu kau?” tanya nya tidak percaya

“Iya ini aku,apa kau melupakanku?” tanya Chili

“Bagaimana mungkin aku melupakanmu.” ucap Graby

“Hahaha baiklah, bagaimana keadaan Elisa?” tanya Chili

“Dia masih tertidur didalam dan nafasnya sudah mulai kembali normal lagi.” ucap Graby

“Untunglah,maafkan aku karena meninggalkan kalian berdua dan tidak mengucapkan sepatah katapun.” ucap Chili menyesal

“Tidak usah minta maaf,kau tidak salah mengerti?” ucap Graby

“Baiklah terimakasih Graby.” ucap Chili tersenyum

Setelah beberapa hari akhirnya Elisa diperbolehkan kembali pulang dan harus dijaga kondisinya. Seiring waktu berlalu rasa cinta Graby dan Chili semakin besar,namun keduanya belum mengungkapkan bahwa mereka saling mencintai satu sama lain. Lalu muncul ide Chili ingin mengangkat Elisa sebagai adiknya dan menyuruh Elisa dibawa ke orangtuanya ke Negara Indonesia agar di rawat oleh orangtuanya dan agar penyakit Elisa segera sembuh,akhirnya Graby pun menyetujui nya dan Elisa juga setuju karena Chili adalah orang yang baik. Beberapa minggu setelah Elisa di pindah kan ke orangtua Chili di Negara Indonesia tiba-tiba Chili merasa sangat sesak tidak seperti biasanya. Dia mulai merangkak mencari tabung oksigen di rumahnya namun tidak tersisa satu pun seperti dulu. Dia sudah sangat kehabisan nafas. Dia mulai merangkak. Terus merangkak keluar rumah mencari penjual tabung oksigen. Dan menemukannya di ujung jalan ini dan hanya tersisa satu buah tabung saja. Dan Chili kaget karena disitu dia melihat Graby juga sesak nafas.

“Pak to-tolong berikan ta-tabung oksigen itu kepada pria itu.” ucap Chili

“Tidak pak be-berikan saja kepada wanita itu.” ucap Graby

Penjual tabung oksigen bingung. Baru kali ini ada orang memilih penderitaan dan kematian bagi dirinya sendiri dan memberikan keselamatan pada orang lain. Biasanya, orang berebut hidup, tidak peduli pada orang lain.

“Jadi, buat siapa ini?” tanya penjual kemudian.

“Dia!” ujar Chili menunjuk Graby.

“Dia!” Graby bersamaan menunjuk Chili.

Pedagang tabung oksigen eceran semakin bingung.

Dalam keadaan bingung, muncul seorang nenek yang bergegas dan berkata bahwa cucunya sesak napas.

Kali ini Graby dan Chili berkata berikan saja tabung itu pada si nenek. Pedagang itu menurut. Selah diberikan, pedagang itu bertanya bagaimana dengan dua orang aneh di depannya, yang tidak dikenalnya dan merangkak begitu menderita.

“Bagaimana dengan kalian?” tanya pedagang.

“Tidak apa-apa denganku,” kata Graby, “tidak ada kematian yang lebih indah selain mati di dalam perasaan cinta dan di depan yang orang kita cintai.”

Chili kaget.

Dia punya perasaan yang sama ternyata. Dan beberapa detik kemudian, maut menjemput mereka bersama-sama. Mereka mati dengan tangan saling menggenggam. Bukan sebagai cinta pertama, tetapi sebagai cinta terakhir, sebagai cinta yang bertaut ketika kematian mengakhiri kehidupan mereka. Kematian yang lebih indah dari semua kematian yang ada di muka bumi.

Biodata  Penulis :

Nama saya Fanisa Amelia Putri saya sering dipanggil Fanis,bocil,nisa,dll. Umur saya 16 tahun saya kelas 1 SMA di SMA ANGKASA. Tempat tanggal lahir saya di Bandung,20 Mei 2002. Saya baru-baru ini mengikuti kegiatan bengkel bahasa di SMK Penerbangan,mengikuti latihan dance dan  membuat cerita bersambung. Jika ingin lebih mengenal saya bisa melalui : ig:fanisa.20,email:fanisaameliaputri41@ymail.com,wa:082327958725,Fb:fanisa amelia

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *